An Ideal Formulation of the Prohibition on Dual Positions for Advocacy Organization Leaders from the Perspective of Legislation

Authors

  • Andri Darmawan Universitas Borobudur, Indonesia
  • KMS Herman Universitas Borobudur, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.46799/ijssr.v6i6.1414

Keywords:

Independence of Advocate Organizations, Dual Positions, State Officials

Abstract

This study examines the formulation of an ideal prohibition on dual positions for leaders of advocacy organizations who concurrently serve as state officials, addressing potential conflicts of interest and threats to organizational independence. The background stems from Article 28, paragraph (3) of Law No. 18 of 2003 on Advocates, which limits dual positions only with political party leaders and lacks explicit provisions regarding state officials, potentially undermining the independence of advocate organizations and constitutional guarantees of legal certainty and freedom of association. The study aims to provide a normative framework for legislative reform that ensures structural integrity and professional independence. Employing a normative juridical research method, the study utilized statutory and conceptual approaches, analyzing relevant constitutional provisions, statutory laws, and Constitutional Court decisions, including Numbers 014/PUU-IV/2006, 91/PUU-XX/2022, and 183/PUU-XXII/2024. Data were collected through systematic document review and legal content analysis. The results indicate that current regulations inadequately address dual positions, leaving room for structural conflicts of interest. The discussion emphasizes the necessity of reformulating Article 28(3) with clear, non-interpretable norms, operational mechanisms, and harmonization with broader legal principles. The study concludes that legislative amendments are essential to prevent conflicts, strengthen advocate independence, and maintain constitutional and rule-of-law standards in Indonesia.

References

Cahya, A. D. (2025). Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan: Norma Ideal dan Realitas Praktik di Indonesia. Constituer: Jurnal Hukum Ketatanegaraan, 1(2), 16-29.

Cahyono, S. P. (2023). Hubungan Hukum Dan Kekuasaan Dalam Sistem Hukum Di Indonesia. Dinamika Hukum & Masyarakat, 6(1), 23-48.

Endira, B. K. (2022). Kedudukan dan peran organisasi profesi advokat terhadap advokat yang berhadapan dengan hukum. Jurnal USM Law Review, 5(1), 389-400.

Fazriah, D. N. (2022). Hubungan kebebasan dan tanggung jawab dalam profesi advokat. Das Sollen: Jurnal Kajian Kontemporer Hukum Dan Masyarakat, 1(1), 122.

Jasmine, J. M. (2025). Implementasi kode etik profesi advokat dalam praktik sehari-hari. Das Sollen: Jurnal Kajian Kontemporer Hukum Dan Masyarakat, 3(1), 12.

Kartadinata, A. I. (2023). Akibat Hukum Terhadap Notaris Yang Rangkap Jabatan Sebagai Advokat Di Kota Bandar Lampung. Justicia Sains: Jurnal Ilmu Hukum, 8(1), 184-204.

Karyudi, B. M. (2024). Implementasi supremasi hukum dalam penegakan hukum di Indonesia. Lex Et Lustitia, 1(2), 86-98.

Lubis, F. A. (2025). Kajian asas-asas equality before the law dalam praktik peradilan perdata. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(3), 5390-5406.

Manulang, N. F. (2024). Analisis perwujudan jaminan dan perlindungan hukum negara atas kebebasan beragama dan beribadat dalam perspektif Pasal 28e Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(16), 637-648.

Nachrawy, N. J. (2025). Kajian tentang Profesi Hukum (Advokat) sebagai Penegak Hukum dalam Upaya meningkatkan kewibawaan Hukum di Kota Manado. Jurnal Tana Mana, 6(2), 360-373.

Nasution, P. R. (2025). Rekonstruksi Organisasi Advokat Dalam Sistem Hukum Indonesia Dan Pengaruhnya Dalam Mencapai Kepastian Hukum. Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, 15(5), 91-100.

Pasaribu, M. G. (2025). Pembatasan Kebebasan Hak Asasi Manusia dalam Freedom of Speech. Honeste Vivere, 35(1), 1-11.

Putri, S. I. (2025). Analisis Komparatif Konversi dan Kontradisi Normatif Antara Jaminan Hak Berpendapat Pasal 28E Ayat 3 dan Perlindungan Privasi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 dalam Hukum Konstitusi Indonesia. Journal Evidence Of Law, 4(3), 1435-1431.

Rusyan, F. E. (2024). Tindakan Majelis Pengawas Notaris Daerah Terhadap Notaris Yang Melakukan Pelanggaran Rangkap Jabatan Sebagai Advokat. Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan, 13(2), 205-213.

Saputra, A. A. (2024). Analisis regulasi larangan rangkap jabatan dalam pemerintahan Indonesia sebagai dukungan penerapan Good Corporate Governance. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(14), 61-76.

Saputra, M. I. (2026). Orientasi Materi versus Integritas Profesi Advokat: Tantangan Penegakan Kode Etik dalam Praktik Hukum. Das Sollen: Jurnal Kajian Kontemporer Hukum Dan Masyarakat, 4(2), 122.

Siregar, M. (2024). Teori hukum progresif dalam konsep negara hukum Indonesia. Muhammadiyah Law Review, 8(2), 122.

Supena, C. C. (2023). Tinjauan tentang konsep negara hukum indonesia pada masa sebelum dan sesudah amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Moderat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 9(2), 372-388.

Thabrani, A. (2022). Konflik Kepentingan: Konstruksi Media Massa Pada Kasus Katidakadilan Gender (Analisis Teori Relasi Kekuasaan Dan Pengetahuan “Power and Knowledge” Dari Michel Foucault). Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, 4(2), 154-160.

Zahara, F. F. (2023). Transparansi Advokat Sebagai Profesi Yang Terhormat (Officium Nobile). As-Syar'i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga, 5(3), 874-880.

Downloads

Published

2026-06-13